Hypotheses non fingo.






         

July 19, 2008

Sistem Pendidikan Negeri Belanda

Filed under: Science — georginho @ 4:37 am

Thanks buat c Amrozi alias Alfonso alias Alexius alias Adri. Gue jadi mesti nunda nerusin San Marino gue. (Kemaren Ballotta bikin 1 kesalahan. Gue udah kalah 4 kali berturut-turut. Gahahahaha.) u copy ini aja ya Dri. K’lo dikirim pake e-mail, u nanti pusing download attachment. Gahahahaha.

Sistem pendidikan Belanda bisa dibandingkan dengan sistem pendidikan Indonesia. Agar lebih jelas, gue buat gambar di bawah. (Klik gambarnya.)

Onderwijs

Kalau dilihat dari gambar, semua anak lulus SD saat mereka umur 12 tahun. Sebelum mereka lulus SD, mereka diberikan sebuah tes seperti tes bakat atau sejenisnya. Hasil tes itu adalah rekomendasi tentang apa yang sebaiknya setiap anak jalani setelah lulus SD.

Kita lihat bagian kiri dari gambar. Ada anak yang lebih menyukai praktik daripada teori. Anak-anak ini masuk vmbo (voorbereidend middelbaar beroepsonderwijs). Sebagai contoh, jika Anda ingin menjadi orang yang membetulkan listrik, Anda harus masuk vmbo. Selepas vmbo, anak-anak ini bisa langsung bekerja atau melanjutkan ke mbo.

Sekarang kita lihat bagian tengah gambar. Ada anak-anak yang "biasa". Selepas lulus SD, mereka melanjutkan ke havo (hoger algemeen voortgezet onderwijs). Sistem havo secara umum sama dengan sistem SMA di Indonesia. Selepas havo, mereka bisa melanjutkan ke mbo jika mereka lebih menginginkan praktik atau hbo jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.

Sekarang kita pindah ke bagian kanan dari gambar. Anak-anak yg berkemampuan cemerlang, seperti Plato, Aristoteles, Galileo, Newton dan Einstein, dapat melanjutkan ke vwo (voorbereidend wetenschappelijk onderwijs) selepas SD. Pelajaran-pelajaran di vwo ini lebih mendalam. Bandingkanlah dengan SMA Regina Pacis Bogor. Selepas vwo, anak-anak ini bisa melanjutkan ke hbo jika mereka ingin merasakan praktik atau ke wo jika mereka ingin menjadi Planck, misalnya.

Sekarang yang seru, yang menjadi inti masalah ini. Ada 3 macam sistem pendidikan tinggi yang bisa dibandingkan dengan universitas di Indonesia.

Yang pertama adalah mbo (middelbaar beroepsonderwijs). Jenis pendidikan tinggi ini dijalankan oleh sebuah lembaga yang bernama Leeuwenborgh opleidingen. Jika Anda memilih sistem pendidikan ini, hidup sehari-hari Anda adalah pergi ke "universitas" untuk mendengarkan teori dasar dan melakukan banyak praktikum. Andaikan seperti ini. Anda ingin bekerja di rumah sakit. Pekerjaan Anda sehari-hari adalah mengetes darah anak-anak kecil untuk mengetahui golongan darah mereka. Kehidupan Anda sehari-hari adalah pergi ke Jln. Ir. H. Juanda No. 2, mendengarkan apa yg Pak Kunarto / Bu Roro / Bu Wida terangkan dalam 1 jam dan langsung pergi ke laboratorium untuk melakukan berbagai macam praktikum di bawah bimbingan Pak Yusup. Lulusan mbo bisa langsung bekerja atau melanjutkan ke hbo.

Yang berikutnya adalah hbo (hoger beroepsonderwijs). Jenis pendidikan tinggi ini dijalankan oleh apa yang disebut hogeschool. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai "sekolah tinggi" atau dalam bahasa Inggris university of professional education. Di sini ada keseimbangan antara teori dan praktik. Setiap minggu biasanya diisi oleh 3 hari kelas (seperti kelas di universitas-universitas di Indonesia) dan 2 hari praktikum (sepanjang hari). Ini tidak hanya berlaku untuk science tapi juga untuk social science. Jika Anda ingin bekerja sebagai akuntan, biasanya ada 1 tahun magang sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Lulusan hbo bisa bekerja atau melanjutkan ke wo.

Nah, yang terakhir ini disebut wo (wetenschappelijk onderwijs). Ini persis sama dengan universitas-universitas di seluruh dunia. Jadi, sepertinya gue tidak perlu menerangkan seperti apa universitas itu. (Lagipula rekan-rekan gue di SMARP yang menerangkan ini kepada semua murid kelas 3 SMA.) Dokter harus lulusan universitas.

Apalagi yah? Errr … gelarnya juga berbeda. Lulusan mbo tak memiliki gelar, lulusan hbo mendapat sejenis Bachelor of Applied Science dan lulusan wo mendapat semua jenis bachelor "standar" yang Anda kenal.

Jika Anda ingin kuliah di Belanda, hal yang paling penting adalah mendapatkan visum. (Lebih baik ditanyakan ke Kedutaan Besar Negeri Belanda di daerah Kuningan, Jakarta jika Anda membutuhkan izin tinggal.) Biasanya ini hal yang cukup sulit jika kita melihat situasi dan kondisi. Belanda adalah negeri yang menerima banyak imigran, terutama dari Maroko dan Turki, dan ada beberapa orang yang terkesan "paranoid" dengan para pendatang, termasuk orang-orang yang datang sebagai pelarian dari negara-negara yang sedang dalam perang saudara.

Kalau tidak salah, proses sebenarnya akan mudah jika Anda datang hanya untuk belajar di universitas yang memberikan jurusan-jurusan dalam bahasa Inggris. Kalau tidak salah lagi, ada representatif University of the Hague yang datang ke sekolah tiap tahun.

Juga akan lebih mudah jika Anda mempelajari bahasa Belanda sebelum Anda datang ke sini. Hal ini akan sangat membantu kehidupan Anda (tidak hanya di universitas). Bahasa Belanda itu mudah untuk yang berbakat dalam bahasa. Gue sih menganggap bahwa bahasa Belanda itu adalah bahasa untuk orang-orang yang bijaksana, seperti Master Yoda. Gue bukan.

O ya, jika Anda ingin tinggal di Belanda dalam waktu lama, seperti untuk bereuni dengan famili, Anda (gue yakin) butuh izin tinggal. Setelah itu Anda harus mengikuti ujian negara bahasa Belanda dan bergantung pada universitas, sertifikat hasil ujian ini diperlukan untuk kuliah. Ijazah SMA Anda juga harus mengikuti proses persamaan lewat sebuah lembaga. Lembaga ini memutuskan apakah Anda layak masuk mbo, hbo atau wo. Khusus untuk lulusan SMA Regina Pacis Bogor (dan kalau Anda cukup berani), Anda bisa mencari tahu kalau Anda bisa memperpendek jangka waktu kuliah Anda. Salah satu caranya adalah seperti berbicara dengan dekan universitas yang bersangkutan. Setelah itu, hal yang menguntungkan, Anda diberikan uang saku per bulan oleh lembaga yang disebut Informatie Beheer Groep. Besarnya antara €90 - €500 pada tahun ajaran 2008/2009 ditambah kartu gratis transportasi. Jika Anda bekerja, Anda diwajibkan membayar kembali (secara angsuran).

Culture shock biasanya memegang peran dalam kehidupan Anda di Belanda. Orang-orang Belanda pada umumnya lebih individualistis daripada orang-orang Timur, lebih berorientasi pada uang dan kurang religius. Orang-orang yang narrow minded bisa ditemui di mana saja. Utrecht dan Maastricht pada umumnya lebih open minded dan bersahabat. Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag juga seperti itu tapi didiami banyak pendatang sehingga (buat gue) terkesan terlalu ramai. Tapi tetap banyak hal yang menarik yang bisa dilihat di sini. Gahahahaha.

Dan sekedar informasi, datang ke Jerman jauh lebih mudah daripada datang ke sini. God knows why.

Segini dulu Dri. K’lo ada yg kurang kasih tau gue.



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment