Hypotheses non fingo.






         

July 19, 2008

My Awesome Football Manager 2008 Update: February 2008

Filed under: Games — georginho @ 2:39 pm

One week again and Georginho will celebrate his birthday, but it doesn’t seem that he will make a party or go to have lunch with his colleagues. His mind is surely full with ongoing problems in San Marino.

San_marino_calcio

The second transfer window has just passed and he has worked hard in January to improve the squad in Serravalle. Somehow. He has known since the season began that it wouldn’t be an easy job for him. The club was relegated in the end of the last season and has to rebuild itself in order not to sink deeper to the amateur leagues. The board under chairman Daniele di Luigi expects his team to be promoted within two seasons and to go to the First Round of Italian Serie C Cup, but he said that he would have been satisfied if San Marino stayed in Serie C2/B this season while the general consensus of the media is that the club from one of the smallest countries in the known universe finishes well to do the play-off.

Georginho, whose real name is George Graham, took long time to think how to improve the team and he began a revolution a la Jürgen Klinsmann. Not a peace revolution, but a somewhat bloody one. The new manager had to release some prospectful San Marinese players and some players who he thought as the "worst" in the squad. He did all, of course, with a heavy heart as he wished all of these players brighter future. When asked why he did all of this, he replied sadly that he wanted to bring better players, but had to keep the small wage budget under control. He also said that because San Marino didn’t have so many fans, he expected that the financial condition would get worse and worse.

So, who were the better players? Georginho, who has both English and Brazilian decent, brought some veterans who had good past in their career back: 34-year-old defender Pablo Paz was brought to 1998 FIFA World Cup in France by coach Daniel Passarella; 35-year-old winger Reynald Pedros was selected in the France squad in 1996 UEFA Euro by coach Aimé Jacquet; and 39-year-old midfielder Giovanni Stroppa won 1989 European Cup and 1990 Intercontinental Cup with Milan under manager Arrigo Sacchi. All of these players were free and the still unexperienced manager hoped that they could bring back their glorious years. Besides, he did use his tiny transfer budget by buying and borrowing some decent players.

Results? The already cash-strapped club has played some steady, but not great performances. The small team looked good in the first two months of the competition before beginning to fight stormy weather. Finishing 13th of 18 teams just before Christmas wasn’t a great achievement to do. And things were getting worse since the bank balance was €525K under nil. The man in charge knew that he had to add some cheap players while releasing the ones who ate big portions of the wage-budget cake. Thus, he accepted the offer of Lazio for 44-year-old experienced goalkeeper Marco Ballotta and of Empoli for 36-year-old defender Richard Vanigli - best known for breaking the fibula of legendary Francesco Totti. Both came for free. Georginho also brought talented defender Luca del Prete to the first team, loaned hot-prospected midfielder Daniele Pedrelli from Internazionale Milano and buying striker Nicola Bisso from Società Polisportiva Ars et Labor 1907. A controversial step had to be taken of course: releasing loyal goalkeeper Emiliano Dei and vice-captain Eupremio Carruezzo. Three of the best players of Titani, Simone Berardi, Roberto di Maio and Alessandro Turchetta, were sold to the other clubs and excited the fans of each of these clubs.

There’s still much to be done, but San Marino are simply labile. Everything is unsure, but Georginho knows one thing exactly: with the club has already been €725K in red , his days in the mountaineous region is being counted, well, down.

Squad

Goalkeeper: Tommaso Merola, Aldo Junior Simoncini

Defender: Federico Tafani, Roberto Corradi, Alessandro Evangelisti, Michele Florindo, Mirko Taccola, Pasquale d’Aniello

Midfielder: Tiziano Mottola, Lorenzo Paoli, Matteo Nevicati, Federico Capece

Forward: Giordano Meloni, Christian Longobardi, Aragao, Luigi Grassi

Transfer in: Marco Ballotta (Lazio, January 2008), Luca del Prete (San Marino U20, January 2008), Davide Salvatori (Sangiovannese 1927, loan), Richard Vanigli (Empoli, January 2008), Pablo Paz (free), Dario Bova (Cesena, loan), Federico Peluso (AlbinoLeffe, loan), Massimo dalle Nogare (Bassano Virtus), Lorenzo del Sole (Sansovino), Daniele Pedrelli (Internazionale Milano, January 2008, loan), Reynald Pedros (free), Felice Prevete (Empoli, loan), Francesco Severi (Cesena, loan), Sid-Ahmed Bouziane (Sampdoria, loan), Giovanni Stroppa (free), Raffaele Baido (Mezzocorona, loan), Nicola Bisso (Società Polisportiva Ars et Labor 1907, January 2008)

Transfer out: Emiliano Dei (January 2008, free), Matteo Gaudino (free), Simone Berardi (Pro Patria, January 2008), Francesco Indirli (free), Roberto di Maio (Carpenedolo, January 2008), Alessandro Turchetta (Real Marcianise Calcio, January 2008), Andrea Gori (free), Eupremio Carruezzo (January 2008, free), Alberto Villa (Gubbio 1910, loan), Filippo Chiappa (free)

Sistem Pendidikan Negeri Belanda

Filed under: Science — georginho @ 4:37 am

Thanks buat c Amrozi alias Alfonso alias Alexius alias Adri. Gue jadi mesti nunda nerusin San Marino gue. (Kemaren Ballotta bikin 1 kesalahan. Gue udah kalah 4 kali berturut-turut. Gahahahaha.) u copy ini aja ya Dri. K’lo dikirim pake e-mail, u nanti pusing download attachment. Gahahahaha.

Sistem pendidikan Belanda bisa dibandingkan dengan sistem pendidikan Indonesia. Agar lebih jelas, gue buat gambar di bawah. (Klik gambarnya.)

Onderwijs

Kalau dilihat dari gambar, semua anak lulus SD saat mereka umur 12 tahun. Sebelum mereka lulus SD, mereka diberikan sebuah tes seperti tes bakat atau sejenisnya. Hasil tes itu adalah rekomendasi tentang apa yang sebaiknya setiap anak jalani setelah lulus SD.

Kita lihat bagian kiri dari gambar. Ada anak yang lebih menyukai praktik daripada teori. Anak-anak ini masuk vmbo (voorbereidend middelbaar beroepsonderwijs). Sebagai contoh, jika Anda ingin menjadi orang yang membetulkan listrik, Anda harus masuk vmbo. Selepas vmbo, anak-anak ini bisa langsung bekerja atau melanjutkan ke mbo.

Sekarang kita lihat bagian tengah gambar. Ada anak-anak yang "biasa". Selepas lulus SD, mereka melanjutkan ke havo (hoger algemeen voortgezet onderwijs). Sistem havo secara umum sama dengan sistem SMA di Indonesia. Selepas havo, mereka bisa melanjutkan ke mbo jika mereka lebih menginginkan praktik atau hbo jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.

Sekarang kita pindah ke bagian kanan dari gambar. Anak-anak yg berkemampuan cemerlang, seperti Plato, Aristoteles, Galileo, Newton dan Einstein, dapat melanjutkan ke vwo (voorbereidend wetenschappelijk onderwijs) selepas SD. Pelajaran-pelajaran di vwo ini lebih mendalam. Bandingkanlah dengan SMA Regina Pacis Bogor. Selepas vwo, anak-anak ini bisa melanjutkan ke hbo jika mereka ingin merasakan praktik atau ke wo jika mereka ingin menjadi Planck, misalnya.

Sekarang yang seru, yang menjadi inti masalah ini. Ada 3 macam sistem pendidikan tinggi yang bisa dibandingkan dengan universitas di Indonesia.

Yang pertama adalah mbo (middelbaar beroepsonderwijs). Jenis pendidikan tinggi ini dijalankan oleh sebuah lembaga yang bernama Leeuwenborgh opleidingen. Jika Anda memilih sistem pendidikan ini, hidup sehari-hari Anda adalah pergi ke "universitas" untuk mendengarkan teori dasar dan melakukan banyak praktikum. Andaikan seperti ini. Anda ingin bekerja di rumah sakit. Pekerjaan Anda sehari-hari adalah mengetes darah anak-anak kecil untuk mengetahui golongan darah mereka. Kehidupan Anda sehari-hari adalah pergi ke Jln. Ir. H. Juanda No. 2, mendengarkan apa yg Pak Kunarto / Bu Roro / Bu Wida terangkan dalam 1 jam dan langsung pergi ke laboratorium untuk melakukan berbagai macam praktikum di bawah bimbingan Pak Yusup. Lulusan mbo bisa langsung bekerja atau melanjutkan ke hbo.

Yang berikutnya adalah hbo (hoger beroepsonderwijs). Jenis pendidikan tinggi ini dijalankan oleh apa yang disebut hogeschool. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai "sekolah tinggi" atau dalam bahasa Inggris university of professional education. Di sini ada keseimbangan antara teori dan praktik. Setiap minggu biasanya diisi oleh 3 hari kelas (seperti kelas di universitas-universitas di Indonesia) dan 2 hari praktikum (sepanjang hari). Ini tidak hanya berlaku untuk science tapi juga untuk social science. Jika Anda ingin bekerja sebagai akuntan, biasanya ada 1 tahun magang sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Lulusan hbo bisa bekerja atau melanjutkan ke wo.

Nah, yang terakhir ini disebut wo (wetenschappelijk onderwijs). Ini persis sama dengan universitas-universitas di seluruh dunia. Jadi, sepertinya gue tidak perlu menerangkan seperti apa universitas itu. (Lagipula rekan-rekan gue di SMARP yang menerangkan ini kepada semua murid kelas 3 SMA.) Dokter harus lulusan universitas.

Apalagi yah? Errr … gelarnya juga berbeda. Lulusan mbo tak memiliki gelar, lulusan hbo mendapat sejenis Bachelor of Applied Science dan lulusan wo mendapat semua jenis bachelor "standar" yang Anda kenal.

Jika Anda ingin kuliah di Belanda, hal yang paling penting adalah mendapatkan visum. (Lebih baik ditanyakan ke Kedutaan Besar Negeri Belanda di daerah Kuningan, Jakarta jika Anda membutuhkan izin tinggal.) Biasanya ini hal yang cukup sulit jika kita melihat situasi dan kondisi. Belanda adalah negeri yang menerima banyak imigran, terutama dari Maroko dan Turki, dan ada beberapa orang yang terkesan "paranoid" dengan para pendatang, termasuk orang-orang yang datang sebagai pelarian dari negara-negara yang sedang dalam perang saudara.

Kalau tidak salah, proses sebenarnya akan mudah jika Anda datang hanya untuk belajar di universitas yang memberikan jurusan-jurusan dalam bahasa Inggris. Kalau tidak salah lagi, ada representatif University of the Hague yang datang ke sekolah tiap tahun.

Juga akan lebih mudah jika Anda mempelajari bahasa Belanda sebelum Anda datang ke sini. Hal ini akan sangat membantu kehidupan Anda (tidak hanya di universitas). Bahasa Belanda itu mudah untuk yang berbakat dalam bahasa. Gue sih menganggap bahwa bahasa Belanda itu adalah bahasa untuk orang-orang yang bijaksana, seperti Master Yoda. Gue bukan.

O ya, jika Anda ingin tinggal di Belanda dalam waktu lama, seperti untuk bereuni dengan famili, Anda (gue yakin) butuh izin tinggal. Setelah itu Anda harus mengikuti ujian negara bahasa Belanda dan bergantung pada universitas, sertifikat hasil ujian ini diperlukan untuk kuliah. Ijazah SMA Anda juga harus mengikuti proses persamaan lewat sebuah lembaga. Lembaga ini memutuskan apakah Anda layak masuk mbo, hbo atau wo. Khusus untuk lulusan SMA Regina Pacis Bogor (dan kalau Anda cukup berani), Anda bisa mencari tahu kalau Anda bisa memperpendek jangka waktu kuliah Anda. Salah satu caranya adalah seperti berbicara dengan dekan universitas yang bersangkutan. Setelah itu, hal yang menguntungkan, Anda diberikan uang saku per bulan oleh lembaga yang disebut Informatie Beheer Groep. Besarnya antara €90 - €500 pada tahun ajaran 2008/2009 ditambah kartu gratis transportasi. Jika Anda bekerja, Anda diwajibkan membayar kembali (secara angsuran).

Culture shock biasanya memegang peran dalam kehidupan Anda di Belanda. Orang-orang Belanda pada umumnya lebih individualistis daripada orang-orang Timur, lebih berorientasi pada uang dan kurang religius. Orang-orang yang narrow minded bisa ditemui di mana saja. Utrecht dan Maastricht pada umumnya lebih open minded dan bersahabat. Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag juga seperti itu tapi didiami banyak pendatang sehingga (buat gue) terkesan terlalu ramai. Tapi tetap banyak hal yang menarik yang bisa dilihat di sini. Gahahahaha.

Dan sekedar informasi, datang ke Jerman jauh lebih mudah daripada datang ke sini. God knows why.

Segini dulu Dri. K’lo ada yg kurang kasih tau gue.